JADWAL MOTOGP
Sunday, September 18, 2011
BIRRUL WALIDAINBIRRUL WALIDAIN
Oleh : Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi
as Sayyid Nada
Kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah ta’ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam al Qur’an agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkan berbarengan dengan pentauhidan-Nya dan memerintahkan para hamba-Nya
untuk melaksanakan sebagaimana akan disebutkan sebagai berikut.
Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Disini akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan
masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal. Dengan pertolongan Allah saya sebutkan beberapa adab tersebut antara lain :
Bagian I
Hak-Hak Yang Wajib Dilaksanakan Semasa Orang Tua Masih Hidup
Diantara hak orang tua ketika masih
hidup adalah:
1. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah
Mentaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya…” [QS.Lukman: 15] Tidak boleh mentaati makhluk untuk mendurhakai Allah, Penciptanya, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya
ketaatan itu hanya dalam melakukan
kebaikan.” [1] Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib
mentaati kedua orang tua selamanya dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.
2. Berbakti dan Merendahkan
Diri Dihadapan Kedua Orang Tua
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
(yang artinya): “Kami perintahkan kepada manusia
suapaya berbuat baik kepada dua
orang ibu bapaknya..” [QS.Al Ahqaf:
15] “Sembahlah Allah dan janganlah
kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu
bapak..” [QS.An Nisaa’:36] Perintah berbuat baik ini lebih
ditegaskan jika usia kedua orang tua
semakin tua dan lanjut hingga
kondisi mereka melemah dan sangat
membutuhkan bantuan dan
perhatian dari anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
(yang artinya): “Dan Rabbmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat bik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya ‘ah’
dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap
mereka berdua dengan penuh kasih
saying dan ucapkanlah: “Wahai,
Rabbku, kasihilah keduanya
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [QS.Al
Israa’: 23-24] Di dalam sebuah hadits, Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh merugi, sungguh merugi,
dan sungguh merugi orang yang
mendapatkan kedua orang tuanya
yang sudah renta atau salah
seorang dari mereka kemudian hal
itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga.” [2] Di antara bakti terhadap kedua
orang tua adalah menjauhkan
ucapan dan perbuatan yang dapat
menyakiti kedua orang tua,
walaupun dengan isyarat atau
dengan ucapan ‘ah’. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah
senantiasa membuat mereka ridha
dengan melakukan apa yang
mereka inginkan, selama hal itu
tidak mendurhakai Allah ta’ala,
sebagaimana yang telah disebutkan. 3. Merendahkan Diri Dihadapan
Mereka Tidak boleh mengeraskan suara
melebihi suara kedua orang tua atau
di hadapan mereka berdua. Tidak
boleh juga berjalan di depan
mereka, masuk dan keluar
mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua.
Rendahkanlah diri di hadapan
mereka berdua dengan cara
mendahulukan segala urusan
mereka, membentangkan dipan
untuk mereka, mempersilahkan mereka duduk ditempat yang
empuk, menyodorkan bantal,
jangan mendahului makan dan
minum, dan lain sebagainya. 4. Berbicara Dengan Lembut
Dihadapan Mereka Berbicara dengan lembut
merupakan kesempurnaan bakti
kepada kedua orang tua dan
merendahkan diri di hadapan
mereka, sebagaimana firman Allah
subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “…Maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya
perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang
mulia.” [QS.Al Israa’: 23] Oleh karena itu, berbicaralah kepada
mereka berdua dengan ucapan
yang lemah lembut dan baik serta
dengan lafazh yang bagus. 5. Menyediakan Makanan Untuk
Mereka Menyediakan makanan juga
termasuk bakti kepada kedua orang
tua, terutama jika ia memberi
mereka makan dari hasil jerih payah
sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan
untuk mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih
mendahulukan mereka berdua
daripada dirinya, anaknya, dan
istrinya. 6. Meminta Izin Kepada Mereka
Sebelum Berjihad dan Pergi
Untuk Urusan Lainnya Izin kepada orang tua diperlukan
untuk jihad yang belum ditentukan.
Seorang laki-laki datang menghadap
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
dan bertanya: “Ya Rasulullah,
apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu
masih mempunyai kedua orang
tua?” Laki-laki itu menjawab:
“Masih.” Beliau bersabda:
“Berjihadlah (dengan cara berbakti)
kepada keduanya.” [3] Seorang laki-laki mendatangi
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
dan berkata: “Aku datang
membai’atmu untuk hijrah dan aku
tinggalkan kedua orang tuaku
menangisi (kepergianku).” Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Pulanglah dan buatlah mereka
tertawa sebagaimana kamu telah
membuat mereka menangis.” [4] Seorang laki-laki hijrah dari negeri
Yaman lalu Nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam bertanya kepadanya:
“Apakah kamu masih mempunyai
kerabat di Yaman?” Laki-laki itu
menjawab: “Masih, yaitu kedua orang tuaku.” Beliau kembali
bertanya: “Apakah mereka berdua
mengizinkanmu?” laki-laki itu
menjawab: “Tidak.” Lantas Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kembalilah kamu kepada mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika
mereka mengizinkan, maka kamu
boleh ikut berjihad, namun jika
tidak, maka berbaktilah kepada
keduanya.” [5] Seorang laki-laki berkata kepada
beliau: “Aku membai’at Anda untuk
berhijrah dan berjihad semata-mata
hanya mengharapkan pahala dari
Allah ta’ala. Beliau bersabda kepada
laki-laki tersebut: “Apakah salah satu kedua orangtuamu masih hidup?”
laki-laki itu menjawab: “Masih,
bahkan keduanya masih hidup.”
Beliau kembali bersabda: “Apakah
kamu ingin mendapatkan pahala dari
Allah subhanahu wa ta’ala?” Lelaki itu menjawab: “Ya”. Kemudian Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kembalilah kamu kepada kedua
orang tuamu dan berbaktilah
kepada keduanya.” [6] 7. Memberikan Harta Kepada
Orang Tua Menurut Jumlah
yang Mereka Inginkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
pernah bersabda kepada seorang
laki-laki ketik ia berkata: “Ayahku
ingin mengambil hartaku.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Kamu dan hartamu milik
ayahmu.” [7] Oleh sebab itu, hendaknya
seseorang jangan bersikap bakhil
(kikir) terhadap orang yang
menyebabkan keberadaan dirinya,
memeliharanya ketika kecil dan
lemah, serta telah berbuat baik kepadanya. 8. Membuat Keduanya Ridha
Dengan Berbuat Baik Kepada
Orang-orang yang Dicintai
Mereka Hendaknya seseorang membuat
kedua orang tua ridha dengan
berbuat baik kepada para saudara,
karib sahabat, teman-teman, dan
selain mereka. Yakni, dengan
memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka,
menunaikan janji-janji (orang tua)
kepada mereka. Akan disebutkan
nanti beberapa hadits yang
berkaitan dengan masalah ini. 9. Memenuhi Sumpah Kedua
Orang Tua Apabila kedua orang tua bersumpah
kepada anaknya untuk suatu
perkara tertentu yang didalamnya
tidak terdapat perbuatan maksiat,
maka wajib bagi seorang anak untuk
memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka. 10. Tidak Mencela Orang Tua
Atau Tidak Menyebabkan
Mereka Dicela Orang Lain Mencela orang tua dan
menyebabkan mereka dicela orang
lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Termasuk dosa besar adalah
seseorang mencela orang tuanya.”
Para Sahabat bertanya: “Ya
Rasulullah, apa ada orang yang
mencela orang tuanya?” Beliau
menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu
membalas mencela orang tuanya. Ia
mencela ibu orang lain lalu orang itu
membalas mencela ibunya.” [8] Perbuatan ini merupakan perbuatan
dosa yang paling buruk. Orang-orang sering bergurau dan
bercanda dengan melakukan yang
sangat tercela ini. Biasanya
perbuatan ini muncul dari orang-
orang rendahan dan hina.
Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar sebagaimana yang telah
disebutkan. 11. Mendahulukan Berbakti
Kepada Ibu Daripada Ayah Seorang laki-laki pernah bertanya
kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam: “Siapa yang paling berhak
mendapatkan perlakuan baik
dariku?” Beliau menjawab: “Ibumu.”
Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau kembali
menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu
kembali bertanya: “Kemudian siapa
lagi? Beliau menjawab: “Ibumu.”
“Lalu siapa lagi?” tanyanya.
“Ayahmu.” Jawab beliau. [9] Hadits diatas tidak bermaksud lebih
mentaati ibu daripada ayah. Sebab,
mentaati ayah lebih di dahulukan
jika keduanya menyuruh pada
waktu yang sama dan dibolehkan
dalam syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat kepada
suaminya, yaitu ayah anaknya.
Hanya saja, jika salah seorang
mereka menyuruh berbuat taat dan
yang lain menyuruh berbuat
maksiat, maka wajib untuk mentaati yang pertama. Maksud lebih mendahulukan
berbuat baik kepada ibu yaitu lebih
bersikap lemah lembut, lebih
berprilaku baik dan memberikan
sikap yang lebih halus daripada ayah.
Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran. Sebagian Salaf berkata: “Hak ayah
lebih besar dan hak ibu patut untuk
dipenuhi.” Demikianlah penjelasan umum hak-
hak orang tua semasa mereka masih
hidup. Bagian II Hak-Hak Orang Tua Setelah
Mereka Meninggal Dunia Diantara hak orang tua setelah
mereka meninggal adalah: 1. Menshalati Keduanya Maksud menshalati disini adalah
mendoakan keduanya. Yakni,
setelah mereka meninggal dunia,
karena ini termasuk bakti kepada
mereka. Oleh karena itu, seorang
anak hendaknya lebih sering mendoakan kedua orang tuanya
setelah mereka meninggal daripada
ketika masih hidup. Apabila anak itu
mendoakan keduanya, niscaya
mereka berdua akan semakin
bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Apabila manusia sudah meninggal,
maka terputuslah amalannya kecuali
tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shalih yang
mendoakan dirinya.” [10] 2. Beristighfar Untuk Mereka
Berdua Orang tua adalah yang paling utama
bagi seorang Muslim untuk didoakan
agar Allah mengampuni mereka
karena kebaikan mereka yang besar. Allah subhanahu wa ta’ala
menceritakan kisah Nabi Ibrahim
‘alaihissalam dalam al Qur’an (yang
artinya): “Ya Rabb kami, beri
ampunlah aku dan kedua ibu
bapakku…” [QS.Ibrahim: 41] 3. Menunaikan Janji Kedua
Orang Tua Hendaknya seseorang menunaikan
wasiat orang tua dan melanjutkan
secara berkesinambungan amalan-
amalan kebaikan yang dahulu
pernah dilakukan keduanya. Sebab,
pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan
kebaikan yang dulu pernah
dilakukan dilanjutkan oleh anak
mereka. 4. Memuliakan Teman Kedua
Orang Tua Memuliakan teman kedua orang tua
juga termasuk berbuat baik kepada
orang tua, sebagaimana yang telah
disebutkan. Ibnu ‘Umar radhiyallahu
‘anhu pernah berpapasan dengan
seorang Arab badui di jalan menuju Mekkah. Kemudian Ibnu ‘Umar
mengucapkan salam kepadanya dan
mempersilahkan naik ke atas keledai
yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia
juga memberikan sorbannya yang ia
pakai. Ibnu Dinar berkata: “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu
orang Arab badui dan mereka sudah
terbiasa berjalan.” Ibnu ‘Umar
berkata: “Sungguh, dulu ayahnya
teman ‘Umar bin al Khaththab dan
aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya bakti anak yang
terbaik adalah seorang anak yang
menyambung tali persahabatan
dengan keluarga teman ayahnya
setelah ayahnya tersebut meninggal.” [11] 5. Menyambung Tali
Silaturrahim Dengan Kerabat
Ibu dan Ayah Hendaknya seseorang menyambung
tali silaturrahim dengan semua
kerabat yang silsilah keturunannya
bersambung dengan ayah dan ibu,
seperti paman dari pihak ayah dan
ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak mereka
semua. Bagi yang melakukannya,
berarti ia telah menyambung tali
silturrahim kedua orang tuanya dan
telah berbakti kepada mereka. Hal
ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan sabda beliau
shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa ingin menyambung tali
silaturrahim ayahnya yang ada
dikuburannya, maka sambunglah tali
silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” [12] Demikianlah akhir dari adab berbakti
kepada orang tua yang telah
dimudahkan Allah kepadaku untuk
menuliskannya, yang seluruhnya
berjumlah enam belas adab.
Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin [13]
Note :
[1] HR.Bukhari (4340, 7145, 7257)
dan Muslim (1840) dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu
[2] HR.Muslim (2551) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[3] HR.Al Bukhari (3004,5972) dan
Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu
[4] HR.Abu Dawud (2528), an Nasa’I (VII/1430, Ibnu Majah (2782), dari Ibnu ‘Amr. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2205)
[5] HR.Ahmad (III/76), Abu Dawud
(2530), al Hakim (II/103, 103) dan
ia menshahihkannya serta disetujui
oleh adz Dzahabi dari Abu Sa’id
radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2207).
[6] HR.Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr
radhiyallahu ‘anhu
[7] HR.Ahmad (II/204), Abu Dawud
(3530), dan Ibnu Majah (2292) dari
Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Hadits
ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (1486)
[8] HR.Al Bukhari (5973) dan Muslim
(90) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.
[9] HR.Al Bukhari (5971) dan Muslim
(2548) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[10] HR. Muslim (1631) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[11] HR. Muslim (2552) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[12] HR.Ibnu Hibban (433) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (5990)
[13] Referensi tambahan :
Shahiih Muslim (IV/1974) dan halaman
setelahnya, Fa-thul Baari (X/414)
dan halaman setelahnya.
Al Ihsaan bi Tartiibi Ibni Hibban (I/315) dan halaman setelahnya,
al Aadaab karya al Baihaqi (hal.5) dan halaman setelahnya,
al Aadaab asy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (I/433) dan halaman setelahnya,
Ihya ‘Uluumuddin karya al Ghazali
(II/216) dan halaman setelahnya,
Birrul Waalidain karya ath Thurthusi,
dan lain-lain.
as Sayyid Nada
Kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah ta’ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam al Qur’an agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkan berbarengan dengan pentauhidan-Nya dan memerintahkan para hamba-Nya
untuk melaksanakan sebagaimana akan disebutkan sebagai berikut.
Hak kedua orang tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Disini akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan
masalah ini. Antara lain hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal. Dengan pertolongan Allah saya sebutkan beberapa adab tersebut antara lain :
Bagian I
Hak-Hak Yang Wajib Dilaksanakan Semasa Orang Tua Masih Hidup
Diantara hak orang tua ketika masih
hidup adalah:
1. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah
Mentaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya…” [QS.Lukman: 15] Tidak boleh mentaati makhluk untuk mendurhakai Allah, Penciptanya, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya
ketaatan itu hanya dalam melakukan
kebaikan.” [1] Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib
mentaati kedua orang tua selamanya dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.
2. Berbakti dan Merendahkan
Diri Dihadapan Kedua Orang Tua
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
(yang artinya): “Kami perintahkan kepada manusia
suapaya berbuat baik kepada dua
orang ibu bapaknya..” [QS.Al Ahqaf:
15] “Sembahlah Allah dan janganlah
kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu
bapak..” [QS.An Nisaa’:36] Perintah berbuat baik ini lebih
ditegaskan jika usia kedua orang tua
semakin tua dan lanjut hingga
kondisi mereka melemah dan sangat
membutuhkan bantuan dan
perhatian dari anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
(yang artinya): “Dan Rabbmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat bik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya ‘ah’
dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap
mereka berdua dengan penuh kasih
saying dan ucapkanlah: “Wahai,
Rabbku, kasihilah keduanya
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [QS.Al
Israa’: 23-24] Di dalam sebuah hadits, Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh merugi, sungguh merugi,
dan sungguh merugi orang yang
mendapatkan kedua orang tuanya
yang sudah renta atau salah
seorang dari mereka kemudian hal
itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga.” [2] Di antara bakti terhadap kedua
orang tua adalah menjauhkan
ucapan dan perbuatan yang dapat
menyakiti kedua orang tua,
walaupun dengan isyarat atau
dengan ucapan ‘ah’. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah
senantiasa membuat mereka ridha
dengan melakukan apa yang
mereka inginkan, selama hal itu
tidak mendurhakai Allah ta’ala,
sebagaimana yang telah disebutkan. 3. Merendahkan Diri Dihadapan
Mereka Tidak boleh mengeraskan suara
melebihi suara kedua orang tua atau
di hadapan mereka berdua. Tidak
boleh juga berjalan di depan
mereka, masuk dan keluar
mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua.
Rendahkanlah diri di hadapan
mereka berdua dengan cara
mendahulukan segala urusan
mereka, membentangkan dipan
untuk mereka, mempersilahkan mereka duduk ditempat yang
empuk, menyodorkan bantal,
jangan mendahului makan dan
minum, dan lain sebagainya. 4. Berbicara Dengan Lembut
Dihadapan Mereka Berbicara dengan lembut
merupakan kesempurnaan bakti
kepada kedua orang tua dan
merendahkan diri di hadapan
mereka, sebagaimana firman Allah
subhanahu wa ta’ala (yang artinya): “…Maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya
perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang
mulia.” [QS.Al Israa’: 23] Oleh karena itu, berbicaralah kepada
mereka berdua dengan ucapan
yang lemah lembut dan baik serta
dengan lafazh yang bagus. 5. Menyediakan Makanan Untuk
Mereka Menyediakan makanan juga
termasuk bakti kepada kedua orang
tua, terutama jika ia memberi
mereka makan dari hasil jerih payah
sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan
untuk mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih
mendahulukan mereka berdua
daripada dirinya, anaknya, dan
istrinya. 6. Meminta Izin Kepada Mereka
Sebelum Berjihad dan Pergi
Untuk Urusan Lainnya Izin kepada orang tua diperlukan
untuk jihad yang belum ditentukan.
Seorang laki-laki datang menghadap
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
dan bertanya: “Ya Rasulullah,
apakah aku boleh ikut berjihad?” Beliau balik bertanya: “Apakah kamu
masih mempunyai kedua orang
tua?” Laki-laki itu menjawab:
“Masih.” Beliau bersabda:
“Berjihadlah (dengan cara berbakti)
kepada keduanya.” [3] Seorang laki-laki mendatangi
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
dan berkata: “Aku datang
membai’atmu untuk hijrah dan aku
tinggalkan kedua orang tuaku
menangisi (kepergianku).” Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Pulanglah dan buatlah mereka
tertawa sebagaimana kamu telah
membuat mereka menangis.” [4] Seorang laki-laki hijrah dari negeri
Yaman lalu Nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam bertanya kepadanya:
“Apakah kamu masih mempunyai
kerabat di Yaman?” Laki-laki itu
menjawab: “Masih, yaitu kedua orang tuaku.” Beliau kembali
bertanya: “Apakah mereka berdua
mengizinkanmu?” laki-laki itu
menjawab: “Tidak.” Lantas Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kembalilah kamu kepada mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika
mereka mengizinkan, maka kamu
boleh ikut berjihad, namun jika
tidak, maka berbaktilah kepada
keduanya.” [5] Seorang laki-laki berkata kepada
beliau: “Aku membai’at Anda untuk
berhijrah dan berjihad semata-mata
hanya mengharapkan pahala dari
Allah ta’ala. Beliau bersabda kepada
laki-laki tersebut: “Apakah salah satu kedua orangtuamu masih hidup?”
laki-laki itu menjawab: “Masih,
bahkan keduanya masih hidup.”
Beliau kembali bersabda: “Apakah
kamu ingin mendapatkan pahala dari
Allah subhanahu wa ta’ala?” Lelaki itu menjawab: “Ya”. Kemudian Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kembalilah kamu kepada kedua
orang tuamu dan berbaktilah
kepada keduanya.” [6] 7. Memberikan Harta Kepada
Orang Tua Menurut Jumlah
yang Mereka Inginkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
pernah bersabda kepada seorang
laki-laki ketik ia berkata: “Ayahku
ingin mengambil hartaku.” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Kamu dan hartamu milik
ayahmu.” [7] Oleh sebab itu, hendaknya
seseorang jangan bersikap bakhil
(kikir) terhadap orang yang
menyebabkan keberadaan dirinya,
memeliharanya ketika kecil dan
lemah, serta telah berbuat baik kepadanya. 8. Membuat Keduanya Ridha
Dengan Berbuat Baik Kepada
Orang-orang yang Dicintai
Mereka Hendaknya seseorang membuat
kedua orang tua ridha dengan
berbuat baik kepada para saudara,
karib sahabat, teman-teman, dan
selain mereka. Yakni, dengan
memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka,
menunaikan janji-janji (orang tua)
kepada mereka. Akan disebutkan
nanti beberapa hadits yang
berkaitan dengan masalah ini. 9. Memenuhi Sumpah Kedua
Orang Tua Apabila kedua orang tua bersumpah
kepada anaknya untuk suatu
perkara tertentu yang didalamnya
tidak terdapat perbuatan maksiat,
maka wajib bagi seorang anak untuk
memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka. 10. Tidak Mencela Orang Tua
Atau Tidak Menyebabkan
Mereka Dicela Orang Lain Mencela orang tua dan
menyebabkan mereka dicela orang
lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Termasuk dosa besar adalah
seseorang mencela orang tuanya.”
Para Sahabat bertanya: “Ya
Rasulullah, apa ada orang yang
mencela orang tuanya?” Beliau
menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu
membalas mencela orang tuanya. Ia
mencela ibu orang lain lalu orang itu
membalas mencela ibunya.” [8] Perbuatan ini merupakan perbuatan
dosa yang paling buruk. Orang-orang sering bergurau dan
bercanda dengan melakukan yang
sangat tercela ini. Biasanya
perbuatan ini muncul dari orang-
orang rendahan dan hina.
Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar sebagaimana yang telah
disebutkan. 11. Mendahulukan Berbakti
Kepada Ibu Daripada Ayah Seorang laki-laki pernah bertanya
kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam: “Siapa yang paling berhak
mendapatkan perlakuan baik
dariku?” Beliau menjawab: “Ibumu.”
Laki-laki itu bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau kembali
menjawab: “Ibumu.” Laki-laki itu
kembali bertanya: “Kemudian siapa
lagi? Beliau menjawab: “Ibumu.”
“Lalu siapa lagi?” tanyanya.
“Ayahmu.” Jawab beliau. [9] Hadits diatas tidak bermaksud lebih
mentaati ibu daripada ayah. Sebab,
mentaati ayah lebih di dahulukan
jika keduanya menyuruh pada
waktu yang sama dan dibolehkan
dalam syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat kepada
suaminya, yaitu ayah anaknya.
Hanya saja, jika salah seorang
mereka menyuruh berbuat taat dan
yang lain menyuruh berbuat
maksiat, maka wajib untuk mentaati yang pertama. Maksud lebih mendahulukan
berbuat baik kepada ibu yaitu lebih
bersikap lemah lembut, lebih
berprilaku baik dan memberikan
sikap yang lebih halus daripada ayah.
Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran. Sebagian Salaf berkata: “Hak ayah
lebih besar dan hak ibu patut untuk
dipenuhi.” Demikianlah penjelasan umum hak-
hak orang tua semasa mereka masih
hidup. Bagian II Hak-Hak Orang Tua Setelah
Mereka Meninggal Dunia Diantara hak orang tua setelah
mereka meninggal adalah: 1. Menshalati Keduanya Maksud menshalati disini adalah
mendoakan keduanya. Yakni,
setelah mereka meninggal dunia,
karena ini termasuk bakti kepada
mereka. Oleh karena itu, seorang
anak hendaknya lebih sering mendoakan kedua orang tuanya
setelah mereka meninggal daripada
ketika masih hidup. Apabila anak itu
mendoakan keduanya, niscaya
mereka berdua akan semakin
bertambah, berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Apabila manusia sudah meninggal,
maka terputuslah amalannya kecuali
tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shalih yang
mendoakan dirinya.” [10] 2. Beristighfar Untuk Mereka
Berdua Orang tua adalah yang paling utama
bagi seorang Muslim untuk didoakan
agar Allah mengampuni mereka
karena kebaikan mereka yang besar. Allah subhanahu wa ta’ala
menceritakan kisah Nabi Ibrahim
‘alaihissalam dalam al Qur’an (yang
artinya): “Ya Rabb kami, beri
ampunlah aku dan kedua ibu
bapakku…” [QS.Ibrahim: 41] 3. Menunaikan Janji Kedua
Orang Tua Hendaknya seseorang menunaikan
wasiat orang tua dan melanjutkan
secara berkesinambungan amalan-
amalan kebaikan yang dahulu
pernah dilakukan keduanya. Sebab,
pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan
kebaikan yang dulu pernah
dilakukan dilanjutkan oleh anak
mereka. 4. Memuliakan Teman Kedua
Orang Tua Memuliakan teman kedua orang tua
juga termasuk berbuat baik kepada
orang tua, sebagaimana yang telah
disebutkan. Ibnu ‘Umar radhiyallahu
‘anhu pernah berpapasan dengan
seorang Arab badui di jalan menuju Mekkah. Kemudian Ibnu ‘Umar
mengucapkan salam kepadanya dan
mempersilahkan naik ke atas keledai
yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia
juga memberikan sorbannya yang ia
pakai. Ibnu Dinar berkata: “Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu
orang Arab badui dan mereka sudah
terbiasa berjalan.” Ibnu ‘Umar
berkata: “Sungguh, dulu ayahnya
teman ‘Umar bin al Khaththab dan
aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya bakti anak yang
terbaik adalah seorang anak yang
menyambung tali persahabatan
dengan keluarga teman ayahnya
setelah ayahnya tersebut meninggal.” [11] 5. Menyambung Tali
Silaturrahim Dengan Kerabat
Ibu dan Ayah Hendaknya seseorang menyambung
tali silaturrahim dengan semua
kerabat yang silsilah keturunannya
bersambung dengan ayah dan ibu,
seperti paman dari pihak ayah dan
ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak mereka
semua. Bagi yang melakukannya,
berarti ia telah menyambung tali
silturrahim kedua orang tuanya dan
telah berbakti kepada mereka. Hal
ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan dan sabda beliau
shalallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa ingin menyambung tali
silaturrahim ayahnya yang ada
dikuburannya, maka sambunglah tali
silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” [12] Demikianlah akhir dari adab berbakti
kepada orang tua yang telah
dimudahkan Allah kepadaku untuk
menuliskannya, yang seluruhnya
berjumlah enam belas adab.
Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin [13]
Note :
[1] HR.Bukhari (4340, 7145, 7257)
dan Muslim (1840) dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu
[2] HR.Muslim (2551) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[3] HR.Al Bukhari (3004,5972) dan
Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu
[4] HR.Abu Dawud (2528), an Nasa’I (VII/1430, Ibnu Majah (2782), dari Ibnu ‘Amr. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2205)
[5] HR.Ahmad (III/76), Abu Dawud
(2530), al Hakim (II/103, 103) dan
ia menshahihkannya serta disetujui
oleh adz Dzahabi dari Abu Sa’id
radhiyallahu ‘anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2207).
[6] HR.Muslim (2549) dari Ibnu ‘Amr
radhiyallahu ‘anhu
[7] HR.Ahmad (II/204), Abu Dawud
(3530), dan Ibnu Majah (2292) dari
Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Hadits
ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (1486)
[8] HR.Al Bukhari (5973) dan Muslim
(90) dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu.
[9] HR.Al Bukhari (5971) dan Muslim
(2548) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[10] HR. Muslim (1631) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[11] HR. Muslim (2552) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
[12] HR.Ibnu Hibban (433) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ (5990)
[13] Referensi tambahan :
Shahiih Muslim (IV/1974) dan halaman
setelahnya, Fa-thul Baari (X/414)
dan halaman setelahnya.
Al Ihsaan bi Tartiibi Ibni Hibban (I/315) dan halaman setelahnya,
al Aadaab karya al Baihaqi (hal.5) dan halaman setelahnya,
al Aadaab asy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih (I/433) dan halaman setelahnya,
Ihya ‘Uluumuddin karya al Ghazali
(II/216) dan halaman setelahnya,
Birrul Waalidain karya ath Thurthusi,
dan lain-lain.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment